[ARTIKEL] – Partisipasi Pria dalam Program Keluarga Berencana di Sulawesi Tengah

 

(Oleh: Liana Dewi Taufiq-Kasubag Administrasi Pengawasan Perwakilan BKKBN Sulteng)

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia setelah Cina, India dan Amerika Serikat. Besarnya jumlah penduduk ini terkait dengan tingginya angka pertumbuhan penduduk Indonesia di masa lalu yang utamanya dipengaruhi oleh tingkat kelahiran. Meskipun tingkat kelahiran sudah dapat diturunkan namun secara absolut jumlah penduduk Indonesia masih terus bertambah.

Berdasarkan proyeksi penduduk yang dirumuskan oleh BadanPusat Statistik (BPS), perkiraan penduduk Indonesia pada tahun 2025 sekitar 273,65 juta jiwa. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 1971-1980 adalah 2,31%, tahun 1980-1990 sebanyak 1,98%, tahun 1990-2000 adalah 1,49% dan tahun 2000-2010 adalah 1,49%. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk di Propinsi Sulawesi Tengah secara berturut-turut untuk tahun yang sama adalah 3,86%, 2,87%, 2,57% 1,95%. Angka ini menunjukkan laju pertumbuhan penduduk di Propinsi Sulawesi tengah  masih lebih tinggi dari laju pertumbuhan penduduk Indonesia. Tingginya laju pertumbuhan penduduk menyebabkan empat masalah besar yang harus diperhatikan yakni Kualitas penduduk, Kuantitas penduduk, Mobilitas penduduk dan Administrasi kependudukan. Kualitas penduduk kita masih tergolong rendah. Indeks pembangunan sumber daya manusia kita, menurut UNDP, berada pada peringkat ke-111 dari 177 negara. Sementara untuk mobilitas, persebaran penduduk indonesia juga belum merata dengan perbandingan penduduk di Jawa dan luar jawa 70 berbanding 30 (Bappenas 2012).

Untuk mengatasi permasalahan diatas, Pada tahun 1969, Pemerintah Indonesia membentuk satu Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dengan program andalan yaitu Program KB. Keluarga Berencana adalah program untuk membantu keluarga termasuk individu anggota keluarga untuk merencanakan kehidupan berkeluarga yang baik sehingga dapat mencapai keluarga berkualitas. Dengan terbentuknya keluarga berkualitas maka generasi mendatang sebagai sumber daya manusia yang berkualitas akan dapat melanjutkan pembangunan. Program Keluarga Berencana dalam pembangunan berkelanjutan yang berwawasan kependudukan dapat memberikan kontribusi dalam hal mengendalikan jumlah dan pertumbuhan penduduk juga diikuti dengan peningkatan kualitas penduduk. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, yang telah disahkan pada tanggal 29 Oktober 2009, bahwa kelembagaan BKKBN dirubah menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.

Melalui program Keluarga Berencana pemerintah sudah melakukan penekanan terhadap laju pertambahan penduduk dengan cara mengatur kelahiran, pendewasaan usia kawin, meningkatan ketahanan keluarga dan kesejahteraan keluarga. Sayangnya, sejak dicanangkannya program KB, hampir sebagian besar peserta KB adalah wanita.

Keikutsertaan pria dalam program Keluarga Berencana di Indonesia masih rendah yaitu 5,5%. Angka tersebut sangat rendah bila dibandingkan dengan negara lain seperti Bangladesh 19,1% Pakistan 10,9%, dan Nepal 18%. Terbatasnya jumlah peserta KB pria hampir merata di seluruh wilayah Indonesia. Dilihat dari SDKI 2012 yang menunjukkan bahwa peserta KB Pria khususnya Vasektomi belum melebihi 1%, sedangkan peserta KB Kondom baru mencapai sekitar 1,8%.

Rendahnya penggunaan kontrasepsi di kalangan pria diperparah oleh persepsi selama ini bahwa program KB hanya diperuntukan bagi wanita, sehingga pria lebih cenderung bersifat pasif. Hal ini juga nampak dari kecenderungan operasional program KB yang selama ini dilaksanakan mengarah pada wanita sebagai sasaran. Demikian juga masalah penyediaan alat kontrasepsi yang hampir semuanya untuk wanita, pengguna tenaga perempuan sebagai petugas dan motivator untuk kesuksesan program KB  sehingga pola pikir masyarakat mempunyai persepsi yang dominan yakni yang hamil dan melahirkan adalah wanita, maka wanitalah yang harus menggunakan alat kontrasepsi.

Sejak tahun 2000 pemerintah secara tegas telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan partisipasi pria dalam keluarga berencana dan kesehatan reproduksi melalui kebijakan yang telah ditetapkan. Di dalam Sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2004-2009 dijelaskan bahwa partisipasi pria menjadi salah satu indikator keberhasilan program KB dalam memberikan kontribusi yang nyata untuk mewujudkan keluarga kecil berkualitas. Partisipasi pria/suami dalam KB adalah tanggung jawab pria/suami dalam kesertaan ber-KB, serta berperilaku seksual yang sehat dan aman bagi dirinya, pasangan dan keluarganya.

Bentuk partisipasi pria dalam Keluarga Berencana dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung, antara lain: partisipasi secara langsung adalah sebagai peserta KB dengan menggunakan salah satu cara atau metode pencegahan kehamilan, seperti: kondom, vasektomi (MOP), metode sanggama terputus dan metode pantang berkala/sistem kalender. Partisipasi pria secara tidak langsung adalah mendukung dalam ber-KB. Dengan cara (1) memilih kontrasepsi yang cocok yaitu kontrasepsi yang sesuai dengan keinginan dan kondisi istrinya, (2) membantu istrinya dalam menggunakan kontrasepsi secara benar, seperti mengingatkan saat minum pil KB, dan mengingatkan istri untuk kontrol, (3) membantu mencari pertolongan bila terjadi efek samping maupun komplikasi dari pemakaian alat kontrasepsi, (4) mengantarkan istri ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk kontrol atau rujukan, (5) mencari alternatif lain bila kontrasepsi yang digunakan saat ini terbukti tidak memuaskan, (6) membantu menghitung waktu subur, apabila menggunakan metode pantang berkala, dan (7) menggantikan pemakaian kontrasepsi bila keadaan kesehatan istri tidak memungkinkan. Selain sebagai peserta KB, suami juga dapat berperan sebagai motivator, yang dapat berperan aktif memberikan motivasi kepada anggota keluarga atau saudaranya yang sudah berkeluarga dan masyarakat disekitarnya untuk menjadi peserta KB, dengan menggunakan salah satu kontrasepsi.

Beratnya tantangan mendongkrak kesertaan KB Pria di Sulawesi Tengah dapat dilihat dari data statisktik rutin Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Tengah sampai dengan bulan November 2017 menunjukan persentase akseptor aktif  kondom 1,6% dan akseptor aktif vasektomi 0,3%. Jumlah pengguna kontrasepsi aktif ( mix kontrasepsi ) pada tahun 2017 di Sulawesi Tengah adalah 396.275 orang. Data partisipasi kontrasepsi pria tercatat sebanyak 7.432 orang, sedangkan partisipasi kontrasepsi wanita tercatat 388.843 orang. Perbandingan persentase pengguna kontrasepsi pria dan wanita sebesar 1,9% berbanding 98,1% menunjukkan partisipasi pria dalam menggunakan kontrasepsi masih rendah.

Berdasarkan hasil analisa, ada beberapa hal yang menyebabkan kesertaan KB Pria di Provinsi Sulawesi Tengah relatif rendah antara lain: (a) Kurangnya promosi, sosialisasi dan KIE KB Pria pada masyarakat, (b) Terbatasnya sarana prasarana, dana dan sumber daya manusia untuk pelayanan KB pria khususnya Vasektomi (MOP), (c) Kurang optimalnya dukungan stakeholder dan shareholder (kemitraan) untuk program KB Pria, (d) Kondisi lingkungan sosial, budaya, masyarakat dan keluarga yang masih menganggap partisipasi pria belum atau tidak penting dilakukan. (e).Pengetahuan dan kesadaran pria dan keluarga dalam ber KB rendah dan (f). Adanya anggapan, kebiasaan serta persepsi dan pemikiran yang salah yang masih cenderung menyerahkan tanggung jawab KB sepenuhnya kepada para istri atau perempuan.

Mengatasi penyebab diatas maka, Perwakilan BKKBN Sulawesi Tengah  berupaya untuk meningkatkan kesertaan KB Pria dengan berbagai upaya antara lain : (a).  meningkatkan komitmen dan penerimaan kesertaan KB Pria di masyarakat, meningkatkan keterjangkauan (akses), dan meningkatkan kualitas pelayanan. (b). Perlunya kerjasama dari berbagai kalangan dan golongan agar kegiatan ber-KB tersebut dapat berjalan dengan baik. (c). Meningkatkan peran BKKBN pusat dan BKKBN perwakilan Sulawesi Tengah untuk melakukan sosialisasi baik melalui media masa, media cetak, media elektronik,serta media luar ruang yang berisi pesan untuk kesertaan KB Pria vasektomi. (d). Meningkatkan peran serta aktif Petugas KB yang berada di lapangan membantu dalam pendataan dan penyuluhan tentang KB Pria secara rutin. (e). Pemberian reward bagi motivator KB Pria terbaik karena Motivator KB pria dapat memberikan daya ungkit yang besar terhadap kesertaan ber-KB Pria dengan cara memberikan informasi, memotivasi, dan mengajak sesama pria untuk menjadi peserta KB, khususnya metode vasektomi dan (f). memberikan reward (penghargaan) pada para suami yang mau ber-KB. Reward tersebut bisa dalam bentuk piagam penghargaan, lencana atau hal-hal lain yang berupa dukungan finansial. Reward ini penting untuk lebih memotivasi para suami agar mau ber-KB.

Dengan meningkatnya partisipasi pria dalam ber-KB diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengendalian pertumbuhan penduduk dan penanganan masalah kesehatan reproduksi yang pada akhirnya akan berdampak pada penurunan angka kematian ibu dan bayi di Provinsi Sulawesi Tengah.

66 views

Satu tanggapan untuk “[ARTIKEL] – Partisipasi Pria dalam Program Keluarga Berencana di Sulawesi Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *